Persahabatan.. (Sleepin’sun)

September 12, 2009 at 1:30 pm | Posted in tulisanku | Leave a comment
Tags: , , ,

Dalam hidup ini tidak ada yang lebih indah dari persahabatan, ukhuwah yang tidak akan pernah lapuk dan usang dimakan waktu. Malam ini, aku teringat padanya, sahabat yang sangat aku sayangi.

Pertemuan itu bermula ketika kami telah ditakdirkan untuk sekolah di SD
yang sama dan itu berlanjut sampai SMU. Selama perjalanan itu, kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama karena jarak rumahku dengannya tidaklah jauh. Ibarat dua telapak tangan, kami tidak terpisahkan. Kami saling mengerti dan membantu setiap permasalahan yang ada. Begitu pula dengan pertengkaran, persahabatan kami tidak selalu lancar tapi pernah ada kesalahpahaman. Namun, hal itu cepat terselesaikan. Mungkin karena kami berdua memang cocok, dia sebagai anak sulung dikeluarganya sangat bisa memahamiku dimana dikeluargaku, aku yang paling bontot. Mungkin perbedaan
itu membuat kami bisa cocok, dan entah kenapa batinku saat itu berkata,
pertengkaran yang terjadi adalah bumbu persahabatan yang menandakan persahabatan kami akan abadi selamanya.
Perjalanan hidup seseorang tidak ada satupun yang bisa menentukan.
Sepintar-pintarnya manusia meramalkan masa depan, tidak ada yang lebih pintar dari Pemilik alam semesta ini karena Dialah yang Maha Menetukan.

Memasuki dunia kuliah, kami berpisah karena mengambil jurusan yang
berbeda. Namun, kuliah tidak menjadi penghalang pertemuan kami. Setiap minggunya ada pertemuan rutin yang digelar. Dan tentu saja, pertemuan itu tidak akan kami sia-siakan karena disaat itulah aku, dia, dan temanku yang lainnya berkumpul.
Dee, itulah panggilan sayang kami untuknya. Dee tidak berubah, dari dulu hingga saat kuliahpun dia tetap nomor satu. Kepintarannya, pribadinya, tidak ada yang bisa mengalahkan. Sempat terbersit dihatiku yang merasa iri padanya, kenapa aku tidak bisa memiliki kepribadian seperti itu? Tapi, rasa itu aku buang jauh karena tidak ada gunanya iri kepada sahabat sendiri, yang penting kita bisa belajar darinya.
Dua tahun sudah perjalanan kuliah kami. Awalnya semua tidak ada masalah. Sampai suatu saat, aku mendengar bahwa Dee sakit. Ada kelainan di dalam tubuhnya. Dan dokter mengatakan kalau Dee menderita penyakit ginjal. Saat itu aku dan sahabat yang lain sangat shock, kenapa kami bisa kecolongan?
Kenapa Dee tidak cerita kalau dia merasa ada yang tidak beres di dalam
tubuhnya? Kenapa kami baru tahu ketika dia dirawat di Rumah sakit? Ternyata, memang tidak ada yang tahu termasuk keluarganya. Dee menyembunyikan penyakitnya karena dia tidak ingin ada yang direpotkan.
Dee sangat tegar, dengan kondisinya yang semakin lama semakin menurun, dia masih bisa tersenyum ketika kami datang ke Rumah sakit. Ketegaran hatinya mengalahkan keadaan fisik yang semakin lama semakin melemah. Tubuh yang kuat itu sudah tidak ada lagi. Untuk mengangkat tanganpun dia tidak bisa dan untuk dudukpun dia harus dibantu dan dipegangi. Hati siapa yang tidak terenyuh melihat keadaan itu. Mata yang teduh itu memancarkan kekuatan, ketabahan, dan kepasrahan. Ya, Dee dan kekuarganya sudah pasrah ketika dokter mengangkat tangan dalam menanganinya dan berbagai obat alternatifpun sudah dicoba tapi hasilnya bersifat sementara.
Satu tahun berlalu. Tepat di hari minggu malam tanggal 14 Maret 2004 aku menerima telfon dan ibuku diminta datang ke rumah Dee karena badannya panas.
Hatiku berdegup kencang, apakah ini saatnya? Namun, perasaan itu aku buang jauh-jauh karena aku yakin Dee akan baik-baik saja. Melihat keadaannya akhirnya diputuskan bahwa Dee harus dibawa ke Rumah Sakit. Aku yang sendiri saat itu merasa tidak akan kuat jika terjadi apa-apa dengannya. Lalu aku memutuskan untuk meminta sahabatku, iis, untuk menemaniku.
Setiba di Rumah Sakit, kondisi Dee makin kritis, dia mengigau dan dari
pandangannya, aku melihat kehampaan. Dia tidak mengenal orang-orang yang ada disampingnya. Mulutnya kaku. Di saat seperti itu, aku dan iis membisikkan kalimat tahlil ditelinganya. Memang Maha Kuasa Allah, Dee tidak bisa bicara tapi dari desahan nafasnya dia mengiringi bacaan kami. Subhanallah.
Tepat jam 3 pagi tanggal 15 Maret 2004, Dee menghembuskan nafasnya. Dia pergi untuk selama-lamanya. Aku yang melihat peristiwa itu hanya bisa berdiri kaku dan tiba-tiba ada bisikan dalam hatiku yang mengatakan, “Bi, sahabat yang kamu sayangi sudah tidak ada lagi, dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Barulah aku sadar, kalau itu bukan mimpi. Air mataku berjatuhan, aku shock dan hanya bisa menangis dalam dekapan iis sahabatku, dan iapun menangis. Dee memang pergi dan tak akan kembali lagi.
Kepergian Dee menggoreskan luka yang sangat dalam. Hari-hariku yang selalu bersamanya, sekarang harus aku jalani sendiri, aku sangat kehilangan dia. 15 tahun perjalanan persahabatan kami adalah waktu yang sangat panjang. Aku sempat protes padaNya, dimana persahabatan abadi yang pernah Allah bisikkan padaku sewaktu aku SD dulu? Kenapa Dia mengambil sahabatku? Dimanakah keadilan itu? Namun, ada yang mengatakan padaku, mungkin ini keputusan yang
baik bagi Dee. Dari pada dia menjalani hidup yang tidak jelas? Daripada dia merasakan sakit setiap hari? Mungkin dengan kepergiannya dia tidak akan menderita sakit lagi, dan aku menyadari hal itu memang benar. Bagiku tidak mudah melupakan kenangan yang pernah kami jalani bersama. Kebahagiaan, kesedihan, dan pertengkaran adalah momen-momen yang sangat berharga bagiku.
Banyak hal yang aku dapat dari Dee. Semuanya akan tetap bersemi indah di ingatanku dan kehadirannya akan tetap menyinari taman hatiku. Perbedaan ruang dan waktu tidak akan pernah memutuskan persahabatan yang telah terjalin.
Aku yakin, Dee bahagia di sana. Senyumannya menghiasi mimpi-mimpiku. Dee, mungkin ini adalah yang terbaik bagimu. Dan aku berdo’a semoga kamu bahagia di sana dan semoga Allah mempertemukan kita di JannahNya, Amiiin.
Sahabat, apakah ini yang dinamakan persahabatan sejati? aku tidak tahu. Namun yang ku tahu saat ini adalah persahabatan itu tidak mengenal runag dan waktu, dimanapun kita berada, persahabatan bisa terjalin.
Sahabat, sayangilah sahabatmu. Jangan jadikan pertengkaran kecil menjadi dinding pemisah diantara kalian. Rasulullah berkata, jika kamu mencintai saudaramu, katakanlah padanya. Dan katakan padanya bahwa kamu mencintainya karena Allah. Dan itu adalah sebaik-baik ucapan.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: